
osama
OSAMA

osama
Cast :
Osama: Marina Golbahari
Espandi: Arif Herati
Mother: Zubaida Sahar
Mullah: Khwaja Nader
Grandmother: Hamida Refah
Writer/Director/Editor : Siddiq Barmak
REVIEW :
Pemenang Best Foreign Language Golden Globe ini dibuka dengan kutipan pidato dari Nelson Mandela “I cannot forget, but I can forgive”. Sebuah ungkapan dengan arti yang sangat tetapi sangat applikatif untuk memulai era baru di Negara Afganistan. OSAMA mengangkat kisah yang “terrific” sekaligus “terrifying”, seperti bercerita tentang kehidupan tentang abad-abad lalu walaupun diambil dari kisah yang terjadi di dunia yang sudah modern ini. OSAMA adalah film pertama yang dibuat di Afganistan setelah kejatuhan Rezim Taliban. Apa yang kita lihat disana adalah kekuasaan tangan besi Taliban telah merenggut hak-hak perempuan yang menyiratkan bahwa siapapun yang terlahir sebagai perempuan pada lingkungan itu adalah sebuah “kutukan”.
Film ini bukanlah sebuah dokumentasi tentang teroris, bukan pula berceritera tentang Osama bin Laden. OSAMA mengangkat kisah nyata tentang kemalangan dan drama nyata seorang gadis muda tak bernama yang masih berusia 12 tahun yang menyamar sebagai seorang anak lelaki untuk menyambung hidupnya dan keluarganya. Sebagaimana kita ketahui semua perempuan pada rezim taliban tempatnya adalah di rumah. Kalau mereka berpergian keluar rumah harus disertai dengan suami atau paling tidak kerabat laki-laki. Kalau tidak, perempuan yang berjalan sendirian itu akan dianggap seperti “barang tak bertuan”, bisa dengan segera diambil/ditangkap oleh Taliban dan masuk ke penjara perempuan. Taliban melarang seorang perempuan berbicara dengan laki-laki yang bukan suaminya, dan banyak lagi larangan-larangan lainnya dengan atas nama agama. Suatu hal yang sangat kontradiktif dimana hukum menempatkan perempuan di rumah, perempuan tidak boleh terlihat wajah dan lekuk tubuhnya. Tetapi apabila mereka tertangkap mereka akan santapan para Mullah dan agen-agen Taliban.
Film yang berlatar-belakang kebangkitan Rezim Taliban di Afganistan, dan dibuka dengan sebuah adegan demo kaum perempuan ber-burqa biru, menuntut agar mereka diberi hak untuk berkerja mencari nafkah untuk keluarganya. Perempuan-perempuan itu kebanyakan adalah para janda yang suaminya tewas dalam perang dan kerusuhan. Kala itupun kaum perempuan sudah mengadakan perlawanan atas penindasan gender dengan dalih perintah agama oleh Rezim Taliban, mereka menyatakan “we are not political, we are hungry, give us work!” tetapi Rezim Taliban terlalu kuat dibanding sekumpulan perempuan pendemo itu, mereka membubarkan demonstrasi itu, dan menangkapi mereka. Nasip perempuan yang tertangkap itu tentu tak terbayangkan bagaimana. Disamping banyak yang mendapat hukum rajam, justru sebagian besar mereka dijadikan “mempelai” ini jelas merupakan pelanggaran susila, bukan?!. Taliban sebenarnya tidak hanya melanggar hak-hak kaum perempuan, tetapi mereka juga melanggar hak-hak kaum laki-laki. Contohnya agen Taliban bisa menangkap seorang laki-laki hanya karena dia berpakaian bersih dan bercukur. Tetapi tentu saja sekarang dengan berakhirnya Rezim Taliban di Afganistan mereka mulai mempunyai kebebasan untuk berbicara, menonton TV, mendengarkan Radio, yang tenntunya hal-hal tersebut adalah kebutuhan orang-orang secara keseluruhan (laki-laki dan perempuan).
Perempuan tidak boleh berkarir, kalau melanggar, tentu akan ditangkap. Ibu dari gadis kecil tokoh sentral dalam film ini adalah seorang dokter tetapi dengan berkuasanya Taliban, dia tidak bisa lagi berkarir, maka dia selalu menyamar ketika menjalankan pekerjaannya. Bahaya akan selalu mengancam terutama ketika dia harus berpergian untuk bekerja, karena di keluarga mereka sudah tidak ada lagi laki-laki yang hidup, semuanya sudah tewas karena perang. Taliban ada dimana-mana tak kenal waktu, semakin hari semakin susah untuk mendapatkan kesempatan untuk bekerja, sedangkan kalau si ibu tidak bekerja, artinya mereka tidak makan. Maka ibu ini dengan keputus-asaannya mendandani anak gadisnya ini menjadi seorang anak laki-laki agar bisa mengantarnya bekerja sebagai dokter. Gadis itu berkata “kalau Taliban tahu, mereka pasti akan membunuhku” tetapi neneknya memberikan semangat bahwa dia harus berani. Satu-satunya pasiennya telah meninggal sedangkan Rumah Sakit juga sudah tutup. Kesempatan mencari nafkah sebagai dokter habis sudah. Harapan kini tinggal satu-satunya pada anak gadis ini, dia harus keluar rumah sendirian dan bekerja di sebuah toko milik teman dari almarhum ayahnya. Sebab hanya dengan cara inilah yang memungkinkan gadis itu bersama-sama dengan ibu dan neneknya mendapatkan sepotong roti untuk menyambung hidup.
Nasip baik tidak bertahan lama, karena agen Taliban datang untuk recruitment anak-anak laki-laki untuk dididik di sekolah lokal madarasah, disitu mereka juga dididik menjadi prajurit. Dalam penyamarannya sebagai anak laki-laki, gadis kecil inipun terjaring dan harus masuk kedalam kamp pendidikan dan pelatihan militer. Di sekolah ini si gadis bertemu dengan seorang anak gelandangan bernama Espandi yang juga masuk pada pelatihan itu, Espandi sebenarnya sejak awal sudah mengetahui bahwa gadis itu menyamar sebagai laki-laki, kemudian dia memanggil gadis itu dengan nama laki-laki “Osama” (dari nama Osama Bin Laden) disinilah dia pertama kali dipanggil dengan nama itu. Di kamp ini ia menjadi lelaki, diperlakukan sebagai lelaki. Disini pula ia diajari mandi junub (ritual pembersihan bagi orang dewasa Muslim). Ketakutan Osama menjadi-jadi karena jika mengikuti pelajaran itu, maka terbukalah kedoknya bahwa dia adalah perempuan.
Kejadian tak berlangsung mulus, teman-teman Osama mulai mencurigai bahwa Osama adalah perempuan, dan mengolok-olok “kamu kayak cewek” dan terjadilah pertikaian diantara para murid di kamp itu, kemudian Osama dihukum ditarik-gantung ke dalam sebuah sumur. Sahabatnya Espandi yang selama ini merupakan tumpuhan harapannya untuk bisa menyelamatkannya, tidak bisa berbuat banyak. Dalam ketakutannya ini membuat dirinya mengalami kekacauan secara hormonal, yang mengakibatkan tubuh Osama secara premature mengalami menstruasi. Maka terbukalah kedok itu.
Perbuatan menyamar sebagai seorang laki-laki adalah kriminal, melanggar peraturan agama buatan rezim Taliban, pelanggar harus mati dengan cara dirajam atau pancung. Osama tidak akan bisa lepas dari jeratan hukuman itu. Dalam sebuah sidang pengadilan Taliban, ternyata Osama mendapat pengampunan, namun ini bukan berarti dia lepas sama sekali dari sebuah penderitaan, Osama menjadi properti Taliban dan harus menjadi mempelai dari salah seorang Mullah yang sudah berumur 70tahun yang juga adalah pengajar dari sekolah madarasah tadi yang pernah mengajari dia mandi junub. Si gadis kecil ini mau tidak mau harus berpisah dengan ibu dan neneknya yang merupakan tempat yang paling nyaman, tidak ada lagi dongeng indah tentang pelangi dari sang Nenek, semuanya sudah masa lalu, kini selamanya dia akan tinggal di “rumah” yang lebih mirip dengan penjara dan sewaktu-waktu harus siap melayani kedatangan Mullah itu.
Bagian akhir film ini ditutup dengan adegan Mullah itu melakukan ritual “Mandi Junub” dengan masuk ke dalam satu tong air hangat. Adegan ini adalah sebuah pemandangan yang agak perlu waktu menterjemahkannya, setelah beberapa saat baru saya mengerti ternyata ada “satu maksud” yang ingin disampaikan dalam adegan itu, ternyata bagi Taliban memerawani gadis kecil bukanlah hal yang haram asalkan setelahnya melakukan ritual mandi junub, hmmm.
It conclude the little girl “ends up” life at the old bastard.
Film ini mengangkat tema kekerasan secara tersirat saja, bahkan tidak banyak menggambarkan adegan kekejaman agen-agen Taliban misalnya membunuhi dan menyiksa orang-orang. Tidak ada sama sekali adegan pembantaian, dan pembunuhan masal. Film ini hanya menggunakan pendekatan-pendekatan terhadap hal-hal yang terjadi akibat tindakan Taliban. Dan hal inipun bisa kita rasakan cukup untuk menggambarkan ketakutan dan teror yang dialami oleh rakyat Afganistan. Dalam keseluruhan adegan kita bisa melihat bahwa seolah-olah agen-agen Taliban itu “omnipresent/ maha hadir”. Sikap mereka sudah bisa menggambarkan bahwa mereka itu bengis dan kejam walaupun tidak ada adegan kekejaman/ obral darah, kekerasan dan sadisme. Namun tanpa itupun ketakutan dan kekerasan bisa kita rasakan. Kita seolah-olah diajak merasakan bersama-sama mereka dalam suasana takut itu. Kita melihat suatu kontradiksi, rezim yang teokratis yang berlandaskan agama secara keras justru melanggar nilai-nilai kemanusiaan, pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah “apakah mereka ini bener-bener percaya Tuhan?, “apakah mereka ini humanis?”, “siapakah sebenarnya sesama mereka itu?”. Mendengar gadis itu berteriak dan menangis “Taliban akan membunuhku….” itu sudah cukup membawa kita untuk menggambarkan kebiadaban Taliban walaupun tanpa adegan sadistis.
Siddiq Barmak adalah pria kelahiran Afganistan dan mendapat pendidikan film di Moscow, tinggal beberapa lama di Pakistan. Film ini diproses/ diedit di Iran. “Penting sekali bila film-film kami menceritakan secara gamblang tentang apa yang telah terjadi pada masyarakat Afganistan, saya percaya film mampu mengubah sesuatu. Film itu mempunyai kekuatan. 85% masyarakat Afganistan masih buta huruf, mereka tidak bisa membaca koran dan buku, jadi kekuatan gambar visual akan menjadi media yang kuat untuk membantu mereka untuk mendapatkan “Visual Connection”. Demikian pendapat Barmak sebagai writer/director/editor, ketika menjelaskan misinya melalui sebuah karya film.
Saya dibuat berkali-kali takjub dengan film-film Iran, pertama kali film Iran yang saya tonton adalah “Children of Heaven”. Amazing! Ternyata masyarakat Iran sangat berbobot dalam apresiasi seni. Kemudian “Color of Paradise”, juga mengangkat kisah kemanusiaan. Film yang sejenis dengan OSAMA adalah “Kandahar” & “Baran” juga merupakan film-film yang saya anggap “berkelas”. Sesuatu yang sangat jarang sekali saya temui pada film-film Indonesia. Film-film itu yang kebanyakan sifatnya sinematik minimalis namun sangat filosofis dengan tanpa ada kesan menggurui. Menonton film-film seperti itu bermanfaat mengajar dan mengajak kita untuk lebih menghargai hidup. Saya terkesan sekali bahwa masyarakat dari negara teokrasi seperti Iran pun mengkritisi kebiadaban Rezim Taliban. Kritik mereka melalui film-film diatas lebih objective ketimbang film-film produksi Barat atau Hollywood. Film mereka lebih natural karena lebih banyak memakai masyarakat awam dan bukan aktris/aktor proffesional. Jadi kesannya film-film itu seperti film dokumenter, atau istilah yang sedang populer sekarang adalah sebuah “reality show”.
REFLEKSI :
Dalam keadaan seperti yang dikisahkan dalam film tersebut, mungkinkah Injil masih merupakan “kabar baik”?. Kenyataannya dalam keadaan seperti itu seorang yang menurut dan taat pada aturan itupun juga terancam nyawanya, mereka hidup dalam ketakutan, hak hidup dan hak menikmati hidup mereka terinjak-injak. Bagaimanakah mungkin mengabarkan Injil jika sanksi bagi setiap orang yang berpindah agama adalah “hukuman mati”?. Mungkinkah kita masih setia sebagai umat Kristen jika Kekristenan dilarang secara Hukum Konstitusional?. Dengan tidak bermaksud menakut-nakuti atau berpikiran prejudice, saya hanya membayangkan “what if”. Saya membaca beberapa point perjuangan Kelompok Mujahidin di Yogyakarta yang telah menyusun Qanun Asasy Negara Islam Indonesia, yang jelas mengarah kepada talibanisme. Film yang bagus seperti OSAMA ini, layak dicermati dan tentu akan memungkinkan kita untuk lebih mampu memberikan penilaian yang benar terhadap sebuah keadaan……..
I’m thrilled from the first time I watched it. It still does……….